- Diposting oleh : Indriyani
- pada tanggal : Juni 12, 2026
Sejak kecil, kita pasti sudah kenyang dicekoki nasihat tentang pentingnya sopan santun. Kita diajarkan untuk mengucapkan kata "permisi" saat lewat di depan orang tua, bilang "tolong" saat butuh bantuan, dan mengucap "terima kasih" setelah dibantu. Tiga kata sakti itu adalah fondasi dasar kesantunan tradisional kita.
Namun, zaman berganti, begitu pula dengan cara kita berinteraksi. Di era modern yang serba cepat dan serba digital ini, definisi sopan santun telah bergeser dan meluas. Sopan santun bukan lagi sekadar tata krama fisik atau tutur kata lisan yang manis.
![]() |
| Image by Thomas Ulrich from Pixabay |
Ada sebuah "seni sopan santun modern" yang sering kali luput dari perhatian kita, padahal dampaknya sangat besar bagi kenyamanan orang lain. Apa saja bentuk kesantunan modern yang sering terlupakan itu?
1. Menjauhkan Ponsel Saat Sedang Berbicara (Phubbing)
Pernahkah kamu sedang asyik bercerita, lalu lawan bicaramu malah sibuk scrolling media sosial di ponselnya? Rasanya menyebalkan, bukan? Fenomena ini disebut phubbing (phone snubbing).
Di era modern, menaruh ponsel dengan layar menghadap ke bawah—atau lebih baik lagi, memasukkannya ke dalam tas saat sedang mengobrol dengan seseorang—adalah bentuk penghormatan tertinggi. Ini adalah cara kita berkata, "Aku menghargai waktumu dan kamu adalah prioritasku saat ini."
2. Meminta Izin Sebelum Melakukan Voice Call atau Video Call
Dulu, menelepon langsung adalah hal yang biasa. Namun sekarang, langsung menelepon seseorang tanpa pemberitahuan sering kali dianggap kurang sopan atau bahkan mengintimidasi, kecuali dalam keadaan darurat.
Setiap orang punya kesibukan dan ruang privasinya masing-masing. Sopan santun modern mengajarkan kita untuk mengirim pesan singkat terlebih dahulu, misalnya: "Halo, apakah ada waktu luang? Boleh aku telepon sebentar?" Langkah kecil ini menunjukkan bahwa kita menghargai waktu mereka.
3. Etika Menggunakan Earphone di Ruang Publik
Menggunakan earphone atau headphone di tempat umum bukan sekadar gaya hidup, tapi juga bagian dari tata krama. Mendengarkan musik, menonton video TikTok, atau bermain game dengan suara speaker yang keras di dalam transportasi umum atau kafe adalah bentuk pengabaian terhadap kenyamanan orang lain. Jangan biarkan polusi suara dari ponselmu mengganggu ketenangan publik.
4. Tidak Memotong Pembicaraan demi "Menunggu Giliran Bicara"
Banyak orang mendengarkan orang lain bukan untuk memahami, melainkan hanya untuk menunggu giliran mereka berbicara. Seni sopan santun modern menuntut kita untuk menjadi pendengar yang aktif. Validasi dulu apa yang dikatakan lawan bicaramu, beri jeda satu atau dua detik setelah mereka selesai bicara, baru kemudian sampaikan pendapatmu.
5. Menjaga Jari di Kolom Komentar Media Sosial
Sopan santun tidak berhenti saat kita berada di balik layar anonim. Mengetik kritik tanpa filter, menghujat, atau sekadar ikut-ikutan tren cyberbullying adalah bentuk krisis kesantunan terbesar saat ini. Aturan emasnya sederhana: Jika kamu tidak akan berani mengatakannya langsung di depan wajah orang tersebut, jangan pernah mengetiknya di kolom komentar.
Kesimpulan: Sopan Santun adalah Tentang Empati
Pada akhirnya, esensi dari sopan santun tidak pernah berubah sejak ratusan tahun lalu: ini adalah tentang empati. Sopan santun adalah kemampuan untuk memikirkan kenyamanan orang lain sebelum kita bertindak atau berbicara.
Mengucapkan "permisi" memang tetap wajib, tetapi mempraktikkan seni sopan santun modern di atas akan membuat kita menjadi manusia yang tidak hanya berbudaya, tetapi juga relevan dan dihargai di era digital ini. Jadi, mari kita mulai dari diri sendiri, dari hal-hal kecil yang sering terlupakan.
Catatan Singkat: Kamu bisa menyesuaikan gaya bahasa di atas (misalnya mengubah kata "kamu" menjadi "Anda") jika target pembacanya adalah kalangan yang lebih formal.
