Pernahkah Anda memperhatikan seorang anak kecil yang baru belajar bicara? Dunia bagi mereka adalah laboratorium raksasa yang penuh keajaiban. "Mengapa langit biru?", "Kenapa ikan tidak tenggelam?", hingga "Ke mana perginya matahari saat malam?". Pertanyaan-pertanyaan itu meluncur deras tanpa henti. Namun, sebuah fenomena menyedihkan sering terjadi: semakin tinggi jenjang pendidikan seseorang, semakin sunyi ruang kelasnya dari pertanyaan.
Rasa ingin tahu yang awalnya meluap-luap perlahan meredup, bahkan padam, di bawah tekanan kurikulum yang kaku. Mengapa ini terjadi, dan bagaimana kita bisa mengembalikan "seni bertanya" ke dalam jantung pendidikan kita?
Foto oleh Taylor Flowe di Unsplash
Penjara Jawaban Tunggal
Masalah utama dalam sistem pendidikan konvensional adalah obsesi terhadap jawaban yang benar. Kurikulum sering kali dirancang sebagai jalur kereta api yang lurus; siswa harus berpindah dari poin A ke poin B dalam waktu yang ditentukan. Dalam struktur ini, pertanyaan yang "melenceng" atau terlalu filosofis sering dianggap sebagai gangguan yang menghambat target materi.
Ketika indikator keberhasilan hanya diukur melalui standarisasi ujian, siswa belajar bahwa bertanya adalah risiko. Mereka takut terlihat bodoh, atau lebih buruk lagi, takut membuang waktu guru. Akibatnya, sekolah berubah dari tempat untuk mencari tahu menjadi tempat untuk mengingat apa yang sudah ditemukan orang lain.
Mengapa Bertanya Adalah Sebuah "Seni"?
Bertanya bukan sekadar keterampilan teknis; ia adalah sebuah seni yang melibatkan keberanian intelektual dan kerendahan hati. Seni bertanya adalah kemampuan untuk melihat celah di antara apa yang kita ketahui dan apa yang belum kita pahami.
Pertanyaan sebagai Navigasi: Tanpa pertanyaan, informasi hanyalah tumpukan fakta mati. Pertanyaan adalah kompas yang mengubah data menjadi pengetahuan.
Memicu Berpikir Kritis: Sebuah pertanyaan yang baik (seperti "Bagaimana jika...?" atau "Mengapa tidak...?") memaksa otak untuk bekerja lebih keras daripada sekadar memanggil kembali memori (recall).
Membangun Empati: Dalam ilmu sosial, bertanya tentang perspektif orang lain adalah pintu masuk menuju toleransi dan pemahaman yang lebih dalam.
Strategi Menghidupkan Kembali Kuriositas
Untuk memulihkan rasa ingin tahu yang hilang, kita perlu mengubah paradigma di ruang kelas maupun di rumah. Berikut adalah beberapa langkah transformatif:
Menciptakan Ruang Aman (Psychological Safety): Siswa harus merasa bahwa tidak ada "pertanyaan bodoh". Guru perlu merayakan proses bertanya sama besarnya dengan merayakan jawaban yang benar.
Menerapkan Metode Sokratik: Alih-alih langsung memberikan jawaban, guru bisa menjawab pertanyaan dengan pertanyaan lain yang memancing logika siswa. Ini mengajak mereka untuk mengonstruksi pemahaman secara mandiri.
Waktu Refleksi yang Cukup: Kurikulum yang terlalu padat seringkali tidak menyisakan ruang untuk bernapas. Memberikan jeda 5-10 menit di akhir pelajaran khusus untuk "Sesi Penasaran" dapat memberikan dampak besar.
Menghargai Ketidaktahuan: Seorang pendidik yang berani berkata, "Saya tidak tahu, mari kita cari tahu bersama," memberikan teladan bahwa belajar adalah perjalanan seumur hidup, bukan sekadar penguasaan materi yang statis.
Pendidikan sejati bukanlah pengisian bejana yang kosong, melainkan penyalaan api. Jika kita terus membiarkan kurikulum yang kaku membunuh rasa ingin tahu, kita hanya akan mencetak robot-robot yang pintar menghafal namun gagap dalam berinovasi.
Mengembalikan seni bertanya berarti memberikan kembali hak anak-anak kita untuk menjelajahi dunia dengan mata yang penuh binar keajaiban. Sebab, pada akhirnya, kemajuan peradaban manusia tidak digerakkan oleh mereka yang memiliki semua jawaban, melainkan oleh mereka yang memiliki keberanian untuk mengajukan pertanyaan yang tepat.
