Sekolah atau Belajar? Memahami Perbedaan Besar di Antara Keduanya

 Mark Twain, penulis ternama asal Amerika Serikat, pernah melontarkan kalimat satir yang sangat relevan hingga hari ini: "I have never let my schooling interfere with my education" (Saya tidak pernah membiarkan sekolah mengganggu pendidikan saya). Kalimat ini menjadi tamparan halus bagi kita semua untuk kembali merenung: apakah selama ini kita benar-benar belajar, atau hanya sekadar "bersekolah"?


Foto oleh Erika Fletcher di Unsplash



Sering kali, masyarakat mencampuradukkan kedua istilah ini. Padahal, sekolah dan belajar adalah dua entitas yang sangat berbeda, meski idealnya keduanya berjalan beriringan. Memahami perbedaan ini sangat krusial agar kita tidak terjebak dalam rutinitas akademik yang hampa.

Sekolah: Institusi dan Ritual Akademik

Sekolah adalah sebuah institusi. Ia memiliki struktur, kurikulum, jadwal, dan sistem penilaian yang kaku. Di sekolah, fokus utama sering kali terletak pada kepatuhan dan pencapaian standar administratif. Siswa diminta untuk datang tepat waktu, duduk diam, mendengarkan instruksi, dan mengerjakan ujian untuk mendapatkan angka-angka di atas kertas.

Dalam sistem sekolah yang kaku, keberhasilan sering diukur melalui indeks prestasi atau nilai rapor. Sayangnya, sistem ini sering kali menciptakan budaya "menghafal untuk ujian lalu melupakan". Sekolah menjadi sebuah ritual transaksional: siswa memberikan waktu dan kepatuhan, lalu sekolah memberikan gelar atau ijazah sebagai imbalannya.

Belajar: Proses Transformasi Diri

Berbeda dengan sekolah, belajar adalah sebuah proses kognitif dan spiritual. Belajar tidak terbatas pada dinding kelas atau jam pelajaran tertentu. Belajar didorong oleh rasa ingin tahu (curiosity) dan kebutuhan internal untuk memahami dunia.

Belajar adalah tentang transformasi. Jika sebelum belajar Anda tidak tahu atau tidak bisa melakukan sesuatu, dan setelah belajar Anda menjadi paham serta mampu mempraktikkannya, maka itulah esensi belajar yang sesungguhnya. Belajar melibatkan kegagalan, eksperimen, dan refleksi mendalam—hal-hal yang terkadang justru "diharamkan" dalam sistem sekolah yang menuntut jawaban benar secara instan.

Perbedaan Motivasi: Ekstrinsik vs Intrinsik

Perbedaan mencolok lainnya terletak pada motivasi. Di sekolah, motivasi siswa sering kali bersifat ekstrinsik; mereka belajar karena takut nilai jelek, ingin pujian orang tua, atau demi prospek kerja di masa depan.

Sementara itu, belajar yang sejati dipicu oleh motivasi intrinsik. Seseorang belajar karena ia merasa lapar akan pengetahuan. Seorang anak yang tekun mengulik komponen radio yang rusak hingga menyala kembali sedang melakukan proses belajar yang hebat, meskipun ia tidak mendapatkan nilai A dari siapapun.

Mengapa Perbedaan Ini Penting?

Memahami perbedaan ini membantu kita menyadari bahwa ijazah hanyalah bukti bahwa seseorang pernah bersekolah, bukan jaminan bahwa ia telah belajar. Di dunia kerja modern, gelar sarjana mungkin bisa membantu Anda mendapatkan panggilan wawancara (sekolah), namun keterampilan dan cara Anda memecahkan masalahlah yang akan membuat Anda bertahan (belajar).

Sangat mungkin bagi seseorang untuk sukses di sekolah namun gagal dalam belajar—ia punya nilai sempurna tetapi tidak memahami konsep dasarnya. Sebaliknya, banyak orang yang mungkin tidak menonjol secara akademik di sekolah, namun mereka adalah pembelajar tangguh di kehidupan nyata.

Kita tidak boleh meremehkan peran sekolah sebagai wadah sosialisasi dan penyedia fasilitas pendidikan. Namun, kita harus berhati-hati agar tidak membiarkan sekolah mematikan gairah belajar kita. Sekolah adalah sarana, sedangkan belajar adalah tujuan akhirnya.

Pendidikan yang ideal adalah ketika sekolah mampu menjadi ekosistem yang mendukung proses belajar yang autentik. Namun, jika sekolah Anda gagal memberikannya, jangan berhenti di sana. Jadilah pembelajar mandiri yang tidak dibatasi oleh kurikulum, karena ilmu pengetahuan jauh lebih luas daripada sekadar buku teks yang Anda bawa di dalam tas sekolah.

إرسال تعليق

Send Whatsapp Query