Salah Kaprah Memilih Jurusan: Bagaimana Orang Tua Bisa Membantu Anak Menemukan Passion-nya

 Memilih jurusan kuliah sering kali menjadi momen paling krusial sekaligus penuh tekanan dalam perjalanan hidup seorang remaja. Di Indonesia, fenomena "salah jurusan" bukanlah hal baru. Data dari berbagai lembaga psikologi sering kali menunjukkan bahwa ribuan mahasiswa merasa tidak bahagia dengan bidang yang mereka tekuni setelah memasuki semester pertengahan. Mengapa ini terjadi? Sering kali, akar masalahnya terletak pada komunikasi antara orang tua dan anak yang tidak berjalan searah.

Sebagai orang tua, wajar jika Anda menginginkan masa depan yang stabil bagi anak. Namun, memaksakan kehendak atau sekadar mengikuti tren pasar bisa menjadi bumerang. Peran ideal orang tua adalah menjadi fasilitator dan mitra diskusi, bukan penentu mutlak masa depan anak.

Membongkar Mitos "Jurusan Aman"

Salah kaprah yang paling umum adalah anggapan bahwa hanya jurusan tertentu—seperti Kedokteran, Teknik, atau Akuntansi—yang menjamin kesuksesan finansial. Di tahun 2026 ini, lanskap ekonomi telah berubah drastis. Industri kreatif, teknologi digital, dan sektor keberlanjutan (sustainability) membuka peluang karier yang dulunya bahkan tidak pernah terpikirkan.

Fokuslah pada pengembangan kompetensi dan ketangguhan mental. Seorang anak yang mengambil jurusan Seni namun memiliki dedikasi tinggi jauh lebih berpeluang sukses dan bahagia dibandingkan anak yang mengambil Teknik namun menjalaninya dengan rasa terpaksa dan penuh stres.

Foto oleh Marvin Meyer di Unsplash

Menjadi Pengamat, Bukan Sutradara

Terkadang, orang tua merasa paling tahu apa yang terbaik untuk anaknya karena pengalaman hidup mereka. Namun, cobalah untuk mulai mengambil posisi sebagai pengamat. Perhatikan perilaku anak di luar jam sekolah:

Kegiatan apa yang membuat mereka lupa waktu saat mengerjakannya?

Masalah apa yang biasanya mereka pecahkan dengan antusias?

Buku atau konten apa yang secara sukarela mereka konsumsi?

Alih-alih mendikte, ajukan pertanyaan terbuka yang memancing refleksi diri, seperti: "Ayah perhatikan kamu sangat telaten saat mengedit video itu, apakah kamu merasa senang saat melakukannya atau hanya sekadar menyelesaikan tugas?" Jawaban mereka adalah kunci untuk memetakan minat dan bakat yang sebenarnya.




Menggunakan Konsep Ikigai dalam Diskusi

Untuk membantu anak menemukan titik temu antara hobi dan realitas karier, Anda bisa menggunakan pendekatan Ikigai. Ajaklah anak duduk bersama dan diskusikan empat elemen penting:

Apa yang disukai? (Minat dan kesenangan)

Apa yang dikuasai? (Bakat dan kemampuan teknis)

Apa yang dibutuhkan dunia? (Kebutuhan pasar kerja)

Apa yang bisa menghasilkan? (Potensi finansial)

Jika pilihan jurusan anak mampu memenuhi keempat unsur ini, maka kemungkinan mereka untuk merasa "salah jurusan" akan sangat kecil.

Memberikan Ruang untuk Eksplorasi (Trial and Error)

Passion jarang sekali muncul secara tiba-tiba seperti sebuah wahyu. Ia sering kali ditemukan melalui proses mencoba dan gagal. Sebelum memutuskan mendaftar kuliah, dukung anak untuk mengikuti kursus singkat, magang, atau bergabung dengan komunitas yang relevan dengan minat mereka. Pengalaman nyata di lapangan akan memberikan gambaran objektif: apakah bidang tersebut benar-benar mereka sukai di kehidupan nyata, atau hanya tampak keren dalam imajinasi mereka.

Mencegah salah jurusan adalah investasi besar bagi kesehatan mental dan masa depan anak. Tugas utama orang tua bukan untuk memilihkan jalan, melainkan memberikan "kompas" agar anak tidak tersesat. Dengan komunikasi yang empatis, validasi terhadap minat anak, serta keterbukaan pikiran terhadap perubahan zaman, Anda dapat membantu mereka menemukan jalur pendidikan yang tidak hanya membuat mereka sukses secara finansial, tetapi juga utuh sebagai manusia.


Posting Komentar

0 Komentar