Di sudut-sudut kafe, di bangku taman, hingga di dalam kamar pribadi, pemandangan yang tersaji hampir selalu sama: kepala yang tertunduk lesu dengan mata yang terpaku pada layar bercahaya. Di sisi lain, buku-buku cetak yang seharusnya menjadi jendela dunia kini lebih banyak teronggok membeku di dalam lemari, menjadi pajangan yang berdebu dan terlupakan. Inilah potret nyata dari apa yang bisa kita sebut sebagai "Resesi Literasi". Sebuah fenomena di mana masyarakat kehilangan kemampuan untuk menyelami kedalaman makna karena terjebak dalam arus informasi yang dangkal.
![]() |
| Foto oleh Jaredd Craig di Unsplash |
Pergeseran drastis ini dipicu oleh dominasi algoritma media sosial yang didesain untuk memanjakan otak dengan lonjakan dopamin singkat. Konten video berdurasi 15 detik, reels, dan scroll tanpa batas telah melatih otak kita untuk hanya menerima informasi dalam porsi kecil yang instan. Akibatnya, membaca buku yang menuntut konsentrasi penuh dan kesabaran kini dirasakan sebagai beban mental yang berat. Otak manusia mulai kehilangan kapasitasnya untuk melakukan deep reading atau membaca mendalam, sebuah proses kognitif yang sangat penting untuk membangun daya nalar.
Dampak jangka panjang dari fenomena ini sangat mengkhawatirkan. Ketika seseorang terbiasa dengan "bacaan dangkal", mereka cenderung kehilangan kemampuan untuk berpikir kritis. Mereka dengan mudah menelan informasi mentah-mentah tanpa mampu membedakan mana fakta, opini, atau sekadar disinformasi. Kemampuan analisis, sintesis, dan pemecahan masalah yang kompleks—yang biasanya diasah melalui narasi buku yang panjang—perlahan mulai tumpul. Kita berisiko melahirkan generasi yang kaya akan potongan informasi, namun miskin akan pemahaman esensial.
Namun, harapan itu belum sepenuhnya padam. Melawan resesi literasi bukan berarti kita harus memusuhi teknologi, melainkan mengambil kembali kendali atas fokus kita yang telah "dicuri" oleh algoritma. Langkah pertama harus dimulai dari lingkungan terkecil. Orang tua dan pendidik harus menjadi model nyata; anak-anak tidak akan menyentuh buku jika mereka melihat orang dewasa di sekitarnya tidak pernah melepaskan ponsel dari tangan.
Selain itu, perlu adanya gerakan "detoks digital" secara berkala. Menyisihkan waktu 20 hingga 30 menit sehari untuk membaca tanpa gangguan notifikasi adalah investasi besar bagi kesehatan intelektual. Kita perlu menyadari bahwa literasi adalah fondasi dari demokrasi dan kemajuan bangsa. Tanpa kemampuan membaca yang mendalam, kita hanya akan menjadi penonton yang pasif di tengah perubahan dunia yang cepat. Mari kita mulai membuka kembali lemari yang berdebu itu, mengambil satu buku, dan mulai membaca. Sebab, di dalam buku terdapat kedalaman yang tidak akan pernah bisa ditemukan dalam sekali sentuhan layar.


0 Komentar