Di tahun 2026, kita sudah terlalu sering mendengar cerita yang sama: siswa kelas 11 mengalami breakdown di ruang BK karena tekanan try out, siswa SMP menolak masuk sekolah selama berminggu-minggu, atau remaja SMA yang diam-diam mengonsumsi obat penenang agar bisa tidur di malam hari menjelang ujian. Ironisnya, banyak dari mereka justru mendapat pujian “anak baik” dan “rajin” dari guru serta orang tua—sampai akhirnya semua runtuh.
Pendidikan Indonesia selama ini cenderung memperlakukan kesehatan mental siswa sebagai urusan sampingan, atau bahkan sebagai “penyakit” yang harus disembunyikan agar tidak mengganggu citra sekolah. Padahal, data dari Kementerian Kesehatan dan berbagai survei independen di tahun 2024–2025 menunjukkan angka kecemasan dan depresi pada remaja usia sekolah terus meningkat drastis, bahkan melampaui angka pra-pandemi. Sekolah, yang seharusnya menjadi tempat aman untuk belajar dan berkembang, justru kerap menjadi salah satu sumber utama stres.
![]() |
| Gambar oleh WOKANDAPIX dari Pixabay |
Mengapa bisa begitu? Pertama, budaya performa yang masih sangat kental. Nilai rapor, ranking kelas, jumlah try out, target masuk PTN favorit—semua itu dijadikan ukuran utama “keberhasilan” seorang anak. Kedua, beban akademik yang tidak manusiawi. Banyak siswa pulang sekolah jam 4 sore, lalu les tambahan sampai jam 9 malam, mengerjakan tugas sampai dini hari. Ketiga, minimnya ruang untuk ekspresi emosi. Di banyak sekolah, ketika siswa menangis atau marah, respons pertama yang diberikan adalah “jangan lebay”, “kuat dong”, atau “ini kan biasa, orang lain juga begitu”.
Akibatnya, banyak siswa belajar menyembunyikan perasaan mereka. Mereka tersenyum di depan guru, aktif di kelas, tapi menyimpan beban berat di dalam dada. Ketika akhirnya tak kuat lagi, sering kali sekolah baru bereaksi: memanggil orang tua, memberikan surat peringatan, atau—yang paling ironis—menyarankan cuti sementara. Padahal yang dibutuhkan bukan “dijauhkan” dari sekolah, melainkan diperlakukan sebagai manusia yang sedang terluka, bukan sebagai “gangguan” bagi sistem.
Saatnya sekolah berhenti berperan sebagai “penutup luka” yang hanya menutupi masalah tanpa menyembuhkannya. Perubahan nyata membutuhkan langkah konkret, bukan sekadar slogan “peduli kesehatan mental”.
Pertama, sekolah perlu memiliki konselor atau psikolog pendidikan yang benar-benar terlatih dan tersedia secara rutin, bukan hanya datang sebulan sekali. Kedua, kurikulum harus memberi ruang untuk pembelajaran tentang regulasi emosi, mindfulness, dan cara mengelola stres sejak dini—bukan hanya sebagai muatan tambahan, melainkan bagian integral seperti pelajaran Matematika atau Bahasa. Ketiga, guru perlu dilatih untuk mengenali tanda-tanda awal masalah mental, bukan hanya menilai dari sikap dan nilai akademik.
Keempat, yang paling penting: mengubah budaya evaluasi. Menghapus atau mengurangi bobot ranking kelas, memberi ruang lebih besar pada penilaian formatif, proyek kolaboratif, dan pengembangan karakter. Sekolah juga harus berani membuka dialog terbuka dengan siswa—mengadakan forum rutin di mana anak-anak boleh menyampaikan keluhan tanpa takut dihakimi.
Banyak pihak mungkin khawatir: “Kalau terlalu longgar, nanti siswa malas belajar.” Namun pengalaman sekolah-sekolah progresif di Finlandia, Selandia Baru, bahkan beberapa sekolah swasta di Indonesia yang mulai menerapkan pendekatan wellbeing-first menunjukkan hal sebaliknya. Siswa yang merasa aman secara emosional justru cenderung lebih termotivasi, lebih kreatif, dan lebih tahan banting menghadapi tantangan.
Kesehatan mental bukanlah kemewahan atau urusan tambahan. Ia adalah fondasi. Tanpa fondasi yang kuat, gedung pencapaian akademik yang kita banggakan selama ini bisa runtuh kapan saja—dan yang paling terluka adalah anak-anak kita sendiri.
Sekarang pertanyaannya bukan lagi “apakah sekolah boleh peduli kesehatan mental?”, melainkan “kapan sekolah berhenti pura-pura bahwa siswa baik-baik saja?” Karena setiap hari kita menutup mata, kita bukan sedang melindungi anak-anak—kita sedang memperpanjang penderitaan mereka.
Sudah waktunya sekolah berubah dari tempat yang menutupi luka, menjadi tempat yang membantu menyembuhkan.


0 Komentar