Kematian Orisinalitas: Bagaimana Tugas Makalah Membentuk Generasi 'Copypaste' - SMK BINUSA DEMAK

Kematian Orisinalitas: Bagaimana Tugas Makalah Membentuk Generasi 'Copypaste'

Kematian Orisinalitas: Bagaimana Tugas Makalah Membentuk Generasi 'Copypaste'

 Di koridor-koridor sekolah dan universitas, sebuah krisis sunyi sedang berlangsung. Kita tidak sedang membicarakan kurangnya fasilitas atau anggaran, melainkan kematian perlahan dari sebuah kemampuan fundamental: berpikir orisinal. Ironisnya, pembunuh utama dari kreativitas ini bukanlah kemalasan siswa semata, melainkan instrumen yang selama ini dianggap sebagai tolok ukur intelektualitas, yaitu tugas makalah.

Selama puluhan tahun, makalah dianggap sebagai cara terbaik untuk menguji pemahaman. Namun, di era di mana informasi tersedia hanya dalam satu klik, tugas makalah telah bergeser fungsi dari sarana sintesis pemikiran menjadi sekadar latihan memindahkan teks. Kita sedang menyaksikan lahirnya "Generasi Copypaste", sebuah angkatan yang mahir melakukan kurasi tanpa pernah benar-benar mencerna.

Foto oleh Wesley Tingey di Unsplash


Formalitas yang Membunuh Substansi

Akar permasalahannya terletak pada beban administratif akademik. Ketika sistem pendidikan menuntut kuantitas—jumlah halaman, margin yang presisi, dan daftar pustaka yang panjang—tanpa memberikan ruang bagi eksplorasi ide, siswa cenderung mencari jalan pintas. Makalah seringkali hanya menjadi formalitas untuk menggugurkan kewajiban nilai.

Dalam tekanan tenggat waktu yang mencekik, proses "membaca, memahami, dan menulis ulang" sering kali dipangkas menjadi "mencari, menyalin, dan memodifikasi sedikit". Hasilnya? Sebuah karya yang secara teknis terlihat rapi, namun kehilangan jiwa dan argumen personal di dalamnya.

Jebakan Teknologi: Dari Google ke AI

Jika dulu "copypaste" terbatas pada menyalin paragraf dari Wikipedia, kini tantangannya lebih canggih. Kehadiran Large Language Models (LLM) seperti ChatGPT semakin mengaburkan batas antara asisten digital dan plagiarisme intelektual. Siswa tidak lagi perlu repot menyusun kalimat; mereka cukup memasukkan perintah (prompt), dan mesin akan memuntahkan esai yang terlihat cerdas namun hambar.

Masalahnya bukan pada teknologinya, melainkan pada bagaimana tugas tersebut diberikan. Selama instruksi makalah tetap bersifat informatif (seperti "Jelaskan sejarah Perang Dunia II"), maka selama itu pula siswa akan menyerahkan orisinalitas mereka pada mesin yang jauh lebih cepat dalam merangkum data.

Dampak Jangka Panjang: Hilangnya Nalar Kritis

Kematian orisinalitas ini membawa dampak sistemik. Ketika seorang siswa terbiasa lulus dengan hasil "curian" ide, mereka gagal membangun otot mental yang diperlukan untuk pemecahan masalah di dunia nyata. Di dunia kerja, tidak ada tombol copy untuk menyelesaikan konflik manajemen atau merancang strategi inovasi.

Generasi ini berisiko menjadi pekerja yang hanya bisa mengikuti instruksi tanpa mampu menggugat status quo atau memberikan perspektif baru. Kita menciptakan barisan individu yang pintar secara teknis, namun tumpul secara intelektual.

Menghidupkan Kembali Pikiran Merdeka

Untuk memutus rantai ini, institusi pendidikan harus berani merombak cara mengevaluasi siswa. Tugas tidak boleh lagi hanya berfokus pada "apa" (data), tetapi harus berfokus pada "mengapa" dan "bagaimana" (analisis personal). Guru dan dosen perlu mendorong refleksi berbasis pengalaman atau studi kasus unik yang tidak bisa ditemukan jawabannya di mesin pencari.

Orisinalitas tidak lahir dari ruang hampa; ia lahir dari keberanian untuk salah dan keinginan untuk berpendapat. Jika kita terus membiarkan tugas makalah menjadi sekadar ritual "copypaste", maka kita sebenarnya sedang mendidik manusia untuk menjadi robot yang inferior, tepat di saat dunia lebih membutuhkan kreativitas manusia yang autentik.
Please write your comments