- Diposting oleh : El
- pada tanggal : Januari 08, 2026
Pada 8 Januari 2026, ruang kelas Indonesia memasuki era baru yang penuh gejolak. Kemendikdasmen baru saja mengonfirmasi bahwa mata pelajaran Coding dan Kecerdasan Buatan (AI) resmi menjadi pilihan wajib di Kurikulum Merdeka mulai tahun ajaran 2025/2026, khususnya untuk siswa kelas 5 SD di sekolah-sekolah percontohan yang siap infrastruktur. Menteri Abdul Mu’ti menekankan implementasi bertahap: pelatihan guru melalui Dirjen GTK, modul pembelajaran mendalam dari Kurikulum Nasional, dan fokus pada sekolah perkotaan dulu sebelum merata ke daerah 3T. Platform lokal seperti AIRIS by Ruangguru (dengan tutor AI Aurora dan Orion yang siap 24/7) serta adaptasi Khanmigo sudah diuji coba, menjanjikan personalisasi belajar yang revolusioner. Tapi, di tengah euforia ini, kegelisahan muncul: Apakah AI tutor akan menggusur guru manusia dalam 5 tahun ke depan, tepat di 2031?
Keunggulan AI Tutor yang Bikin Guru Kelimpungan
AI tutor bukan lagi mimpi. Di 2026, tools seperti AIRIS Ruangguru mampu menganalisis data siswa real-time, menyesuaikan soal matematika atau coding berdasarkan kelemahan individu, dan memberikan umpan balik instan—bahkan curhat pelajaran jam 2 pagi. Studi global TechCrunch (diadaptasi lokal) klaim peningkatan hasil belajar hingga 40% dibanding metode konvensional, terutama untuk hafalan dan latihan repetitif. Di Indonesia, survei guru (78% responden) optimis AI bisa otomatisasi tugas administratif, personalisasi pengajaran, dan bantu siswa di pelosok tanpa guru cukup.
Bayangkan: satu AI tutor layani ribuan siswa, biaya rendah (Rp 600 ribu/bulan via app), tersedia nonstop, tanpa bias mood atau pilih kasih. Uji coba di sekolah Jakarta tunjukkan siswa kelas 5 SD naik skor coding 35% dalam 3 bulan pakai Stimuler atau Ruangguru AI. Di X (Twitter), hackathon Samsung SIC 2025 dorong ide "Personalized AI Tutor" untuk atasi pendidikan seragam yang bikin siswa tertinggal. Tak heran, banyak orang tua di Semarang dan Jakarta sudah langganan, anggap AI "guru pribadi 24/7".
![]() |
| Gambar oleh Samuel Ijimakin dari Pixabay |
Guru Manusia: Benteng yang Tak Tergoyahkan AI
Tapi, AI punya celah lebar. Kecerdasan emosional tetap milik manusia. Guru bisa deteksi siswa depresi karena masalah rumah tangga—lihat mata menunduk, beri nasihat gotong royong ala Indonesia—sesuatu yang AI simulasikan tapi tak rasakan. Seperti kata dosen di Unesa, "AI ganti tugas repetitif, tapi mendidik jiwa? Itu tugas guru." Survei suara guru (Jurnal Review Pendidikan) ungkap kekhawatiran: 70% takut siswa kehilangan kemampuan dasar karena "murid kencing berlari" via AI, jadi receh, mudah bosan, mental drop.
Kreativitas dan pemikiran kritis juga unggul manusia. AI kuat pola data lama, tapi lemah dilema etis seperti "AI bikin deepfake, gimana jaga nilai Pancasila?" atau proyek lintas mata pelajaran di Kurikulum Merdeka. Ganjar Pranowo kritik di X: "Mayoritas siswa belum kompeten baca-hitungan, fasilitas kurang—fokus AI dulu atau kecerdasan manusia?" Anies Baswedan tambah: butuh panduan etis AI di kelas, jangan sampai guru "recursive error" karena pelatihan setengah hati.
Di X, debat sengit: @zanatul_91 cerita guru paksa AI demi aman asesmen, siswa kehilangan proses belajar; @mathdroid bilang "Guru Indo gak direplace AI karena mahal"; @kun_wardana: "Bahaya manusia diprogram AI tanpa kesadaran." World Economic Forum prediksi 65% pekerjaan anak SD 2026 belum ada—fokus skill 21st century: critical thinking, emotional intelligence, adaptability—yang guru tanamkan via diskusi, gagal-bangkit, bukan algoritma.
2031: Bukan Perang, Tapi Simfoni Guru + AI
Prediksi realistis: kolaborasi menang total. Guru jadi "konduktor orkestra"—AI handle latihan coding personal, guru fasilitasi proyek kelompok, mentoring karakter, diskusi etika AI. Studi ITI: kombinasi AI + guru tingkatkan efektivitas 50%, guru hemat 10 jam/minggu (AI Guru Indonesia). Di 2031, kelas hybrid: metaverse untuk coding SD, fisik untuk bonding. Tantangan? Infrastruktur (sekolah 3T), pelatihan 1 juta guru (Dirjen GTK target 2027), regulasi bias AI (Kemendikbud rencana 2026).
Iim Fahima (@iimfahima) di X: "Raport bagus tak cukup—skill adaptif wajib di era AI." @levifikri: "AI 100x lebih baik 2026, manusia constrained—worry?" Jawabannya: ya, kalau tak adaptasi.
Penutup: Pilih Evolusi, Bukan Extinction
Di 2031, pemenang bukan guru atau AI, tapi ekosistem hybrid yang lahir dari Kurikulum Merdeka. Guru tak hilang—merevolusi jadi mentor jiwa, inovator skill masa depan. Pertanyaan krusial: Siapkah Kemendikdasmen alokasikan Rp triliun untuk pelatihan guru AI? Siapkah orang tua (seperti di Semarang) dorong anak literasi AI etis, bukan copy-paste? Indonesia bisa pimpin ASEAN AI education kalau mulai sekarang: blended learning, fokus karakter + tech.
Tim mana kamu? Guru abadi, atau duo dinamis? Jawabanmu tentukan generasi 2031: pionir atau korban algoritma?
