Dampak Ngeri 'Learning Loss' yang Jarang Disadari Orang Tua Zaman Now - SMK BINUSA DEMAK

Dampak Ngeri 'Learning Loss' yang Jarang Disadari Orang Tua Zaman Now

Dampak Ngeri 'Learning Loss' yang Jarang Disadari Orang Tua Zaman Now

Istilah Learning Loss mungkin terdengar seperti jargon akademis yang hanya menjadi urusan para pakar pendidikan. Namun, bagi orang tua, ini adalah ancaman nyata yang bisa menentukan masa depan anak. Pasca-pandemi dan di tengah gempuran distraksi digital, fenomena "kehilangan kemampuan belajar" ini terjadi secara senyap. Banyak orang tua merasa anak mereka "baik-baik saja" karena masih naik kelas, padahal secara kognitif, ada jurang yang menganga di dalam sana.

Berikut adalah analisis mengenai dampak ngeri learning loss yang sering kali luput dari radar pengawasan orang tua zaman sekarang.



Foto oleh Brett Jordan di Unsplash

1. Rapuhnya Pondasi Kognitif (Efek Domino)
Pelajaran sekolah disusun secara kumulatif. Jika seorang anak mengalami learning loss pada konsep dasar matematika di kelas 3, mereka mungkin masih bisa lulus ke kelas 4 dengan bantuan remedial atau tugas tambahan. Namun, saat mereka bertemu aljabar atau logika rumit di jenjang yang lebih tinggi, mereka akan "meledak".

Banyak orang tua baru menyadari masalah ini saat anak sudah di bangku SMP atau SMA, padahal akarnya adalah lubang pemahaman yang terjadi bertahun-tahun sebelumnya. Ini adalah bom waktu intelektual; ketidaktahuan yang menumpuk akan membuat anak merasa benci pada pelajaran, bukan karena mereka tidak mampu, tapi karena fondasinya sudah runtuh.

2. Erosi 'Stamina Mental' untuk Berpikir Dalam
Dampak paling mengerikan dari learning loss di era digital bukanlah hilangnya hafalan, melainkan hilangnya ketahanan mental untuk memecahkan masalah sulit (problem solving stamina). Karena terbiasa dengan pola belajar yang terfragmentasi, banyak anak kehilangan kemampuan untuk melakukan deep work.

Mereka menjadi cepat menyerah saat menghadapi soal yang membutuhkan logika berlapis. Otak mereka terbiasa dengan kepuasan instan layaknya menggulir layar media sosial. Akibatnya, aktivitas berpikir mendalam terasa menyakitkan secara mental, membuat mereka lebih memilih jalur pintas atau sekadar menyontek demi nilai.

3. Krisis Kepercayaan Diri yang Terselubung
Ketika seorang anak mengalami learning loss, mereka perlahan mulai merasa "bodoh" karena tidak bisa mengikuti ritme pelajaran yang semakin cepat. Mereka tidak paham bahwa yang terjadi adalah masalah sistemik atau hilangnya sirkuit pengetahuan, bukan kapasitas otak mereka yang berkurang.

Rasa tidak mampu ini perlahan membunuh kepercayaan diri mereka. Anak yang tadinya bersemangat bisa berubah menjadi apatis dan menarik diri dari tantangan akademis sebagai bentuk pertahanan diri agar tidak merasa malu. Inilah awal mula terbentuknya "mentalitas pecundang" yang bisa terbawa hingga mereka memasuki dunia kerja.

4. Penurunan Daya Saing di Masa Depan
Dalam skala global, learning loss adalah ancaman ekonomi. Berbagai riset menunjukkan bahwa kehilangan kemampuan belajar dalam waktu lama berkorelasi langsung dengan penurunan potensi pendapatan di masa depan. Di dunia kerja yang semakin kompetitif dan didominasi oleh kecerdasan buatan (AI), mereka yang memiliki lubang dalam kompetensi dasar (literasi dan numerasi) akan sangat sulit beradaptasi. Kita berisiko menciptakan generasi yang memiliki gelar, namun tidak memiliki kompetensi yang relevan.

Kesimpulan: Apa yang Harus Dilakukan?
Orang tua zaman sekarang tidak bisa hanya bersikap pasif dan menyerahkan segalanya pada sekolah. Kita harus menjadi "detektif" bagi perkembangan anak sendiri. Cek kembali pemahaman dasar mereka, jangan tergiur dengan angka-angka bagus di rapor yang mungkin hanya formalitas.

Learning loss adalah luka yang tidak berdarah, namun jika dibiarkan, ia akan membuat masa depan anak menjadi "cacat" secara intelektual. Mendeteksi dan memperbaikinya sekarang jauh lebih murah dan mudah daripada menyesal saat mereka gagal bersaing di dunia nyata nanti.
Please write your comments