Ketika seorang anak enggan membuka buku atau menunda-nunda tugas sekolah, label pertama yang biasanya terucap adalah "malas". Kata ini seolah menjadi palu hakim yang menutup ruang diskusi. Namun, dalam kacamata psikologi pendidikan, "malas" jarang sekali menjadi penyebab utama. Sering kali, apa yang kita anggap sebagai kemalasan sebenarnya adalah mekanisme pertahanan diri atau sinyal bahwa anak tersebut telah kehilangan makna dalam apa yang mereka pelajari.
Krisis Motivasi Intrinsik
Psikologi mengenal dua jenis motivasi: ekstrinsik (hadiah/hukuman) dan intrinsik (kepuasan dari dalam). Masalah dalam sistem pendidikan kita adalah ketergantungan yang berlebihan pada motivasi ekstrinsik. Anak belajar karena takut nilai merah atau karena dijanjikan hadiah.
Ketika tekanan ekstrinsik ini hilang atau justru menjadi terlalu berat, anak kehilangan alasan untuk belajar. Mereka mulai bertanya, "Untuk apa aku mempelajari ini?" Jika jawaban yang mereka temukan hanya "agar lulus ujian," maka otak mereka tidak akan menemukan makna yang cukup kuat untuk menggerakkan energi belajar. Tanpa makna, belajar terasa seperti memindahkan tumpukan pasir dari satu tempat ke tempat lain: melelahkan dan sia-sia.
Hierarki Kebutuhan Belajar
Menurut Teori Penentuan Nasib Sendiri (Self-Determination Theory), manusia membutuhkan tiga hal untuk merasa termotivasi: Otonomi, Kompetensi, dan Relasi.
Otonomi: Jika anak merasa tidak punya pilihan dan selalu didikte, mereka akan memberontak dengan cara "mogok" belajar.
Kompetensi: Jika materi terasa terlalu sulit (di luar jangkauan), anak akan mengalami learned helplessness—merasa bodoh dan akhirnya berhenti mencoba demi melindungi harga diri.
Relasi: Hubungan yang buruk dengan guru atau orang tua membuat aktivitas belajar menjadi pengalaman emosional yang negatif.
Apa yang tampak seperti kemalasan sering kali adalah cara anak melindungi dirinya dari perasaan tidak kompeten atau perasaan tertekan.
'The Gap' Antara Materi dan Realitas
Anak-anak zaman sekarang—Generasi Alpha dan Z—adalah generasi yang sangat pragmatis. Mereka terpapar pada dunia luar yang sangat dinamis melalui internet. Ketika mereka masuk ke ruang kelas dan diajarkan teori yang terasa usang tanpa penjelasan relevansinya dengan dunia nyata, terjadilah disconnect.
Kehilangan makna terjadi saat tidak ada jembatan antara kurikulum dan kehidupan mereka. Bagi mereka, menghafal rumus tanpa tahu kegunaannya adalah pemborosan ruang di memori otak. "Kemalasan" mereka adalah bentuk protes bawah sadar terhadap sistem yang dianggap tidak relevan.
Menumbuhkan Kembali Makna
Untuk mengatasi hal ini, kita perlu berhenti memarahi perilakunya dan mulai membedah alasannya. Beberapa langkah yang bisa diambil antara lain:
Kaitkan dengan Minat: Jika anak suka sepak bola, ajarkan statistik atau fisika melalui dinamika bola.
Berikan Kendali: Biarkan anak memilih urutan tugas yang ingin dikerjakan atau metode belajar yang mereka sukai (visual, audio, atau praktik).
Fokus pada 'Mengapa': Sebelum masuk ke 'apa' yang harus dipelajari, jelaskan 'mengapa' hal itu penting bagi dunia atau masa depan mereka.
Melabeli anak "malas" adalah solusi instan yang tidak menyelesaikan masalah. Itu seperti memarahi mobil yang mogok karena kehabisan bensin. Anak yang kehilangan motivasi bukanlah anak yang rusak; mereka hanya kehilangan alasan untuk bergerak. Tugas kita sebagai pendidik dan orang tua bukanlah memaksa mereka berlari, melainkan membantu mereka menemukan kembali makna yang hilang, agar mesin belajar di dalam diri mereka bisa menyala kembali dengan tenaga mereka sendiri.







