- Diposting oleh : El
- pada tanggal : Januari 07, 2026
Di tahun 2026, ruang kelas Indonesia semakin terasa seperti arena pertemuan dua dunia yang berbeda. Di satu sisi, ada siswa Gen Z akhir dan Gen Alpha awal—dikenal sebagai “Zoomer”—yang lahir dan besar bersama smartphone, TikTok, AI chatbot, dan dunia yang serba instan. Di sisi lain, mayoritas guru masih didominasi generasi milenial (lahir 1981–1996), yang tumbuh di era transisi dari analog ke digital, mengalami masa kecil tanpa internet cepat, dan belajar menghargai proses panjang serta kesabaran.
Perbedaan ini bukan sekadar selisih umur, melainkan perbedaan cara berpikir, nilai, dan ekspektasi terhadap pendidikan. Zoomer cenderung pragmatis: “Kenapa harus hafal rumus kalau bisa tanya Grok atau ChatGPT?” Mereka menghargai efisiensi, autentisitas, dan konten yang relatable. Sementara guru milenial sering kali masih terikat pada nilai-nilai klasik: disiplin, ketekunan, penghormatan terhadap otoritas, dan keyakinan bahwa proses belajar harus “susah dulu, nikmat kemudian”.
![]() |
| Gambar oleh steveriot1 dari Pixabay |
Konflik kecil sehari-hari mulai terlihat jelas. Guru meminta siswa menyerahkan HP saat pelajaran, Zoomer merespons, “Tapi Pak/Bu, ini tools belajar saya.” Guru menuntut presentasi formal dengan slide PowerPoint rapi, siswa mengajukan ide membuat video pendek ala Reels. Guru marah karena siswa terlambat 5 menit, siswa bingung karena “di dunia nyata orang kerja remote, fleksibel kok”. Guru menganggap siswa kurang sopan karena memanggil “Bro” atau “Sis”, siswa merasa guru kaku karena tidak mau dipanggil nama depan saja.
Jurang ini bukan hanya soal gaya komunikasi. Lebih dalam lagi, ada perbedaan pandangan tentang makna “sukses”. Banyak Zoomer tidak lagi memimpikan jabatan kantoran bergengsi atau IPK sempurna; mereka ingin fleksibilitas, impact sosial, passive income, atau sekadar hidup yang “chill” tapi bermakna. Sementara guru milenial, yang mungkin masih berjuang mencicil rumah dan kendaraan, sering kali memproyeksikan perjuangan mereka: “Kalian harus giat seperti dulu, jangan manja!”
Namun, di balik jurang itu, sebenarnya ada potensi jembatan yang sangat kuat—jika kedua pihak mau melangkah setengah jalan.
Guru milenial punya kelebihan besar: mereka masih cukup muda untuk paham teknologi, tapi sudah punya pengalaman hidup yang lebih matang. Mereka bisa menjadi “translator” antara dunia lama dan baru. Banyak guru milenial yang mulai beradaptasi: menggunakan Canva untuk materi, memasukkan meme sebagai ice breaker, membuat kuis interaktif via Kahoot atau Quizizz, bahkan belajar bahasa gaul siswa agar komunikasi lebih dekat.
Di sisi siswa, Zoomer sebenarnya sangat menghargai guru yang autentik, terbuka, dan mau belajar. Mereka tidak butuh guru yang serba tahu, tapi guru yang mau mengakui “Saya juga belum paham AI ini, ayo kita pelajari bareng.” Ketika guru menunjukkan kerentanan dan semangat belajar, jurang itu mulai terisi.
Beberapa sekolah yang berhasil menjembatani perbedaan ini punya pola sama: dialog terbuka rutin (bukan hanya BK saat ada masalah), pelatihan guru tentang literasi digital dan tren remaja, serta fleksibilitas dalam metode pengajaran. Hasilnya? Siswa lebih engaged, guru merasa dihargai, dan suasana kelas jadi lebih manusiawi.
Pada akhirnya, pertanyaan bukan lagi “siapa yang harus berubah lebih banyak?”, melainkan “kapan kita berdua mulai berjalan ke arah tengah?” Karena jika jurang generasi ini terus melebar, yang kalah bukan hanya guru atau siswa, tapi pendidikan itu sendiri. Sebaliknya, jika jembatan dibangun dengan kesabaran dan saling pengertian, kelas bisa menjadi tempat di mana dua generasi saling menguatkan—bukan saling menjatuhkan.
Anak Zoomer dan guru milenial bukan musuh di kelas. Mereka adalah dua sisi mata uang yang sama: generasi yang sedang mencari cara terbaik untuk bertahan dan berkembang di dunia yang berubah sangat cepat. Tinggal satu hal yang dibutuhkan: mau saling mendengar, sebelum terlambat.
