Anak Tidak Mau Sekolah Lagi? Ini Bukan Masalah Motivasi, Tapi Desain Sistem yang Sudah Usang

 Di tahun 2026, cerita yang sama terus berulang di banyak keluarga Indonesia: anak yang dulu rajin, tiba-tiba menolak bangun pagi, pura-pura sakit, bahkan sampai menangis atau marah besar hanya karena harus berangkat sekolah. Orang tua biasanya langsung menyalahkan satu hal: kurang motivasi. “Kurang disemangati”, “kurang dikasih hadiah”, “kurang ditegur”, “terlalu dimanja”. Padahal, kalau kita berhenti menyalahkan anak dan orang tua sejenak, lalu melihat lebih jernih, masalahnya jauh lebih struktural daripada personal.

Gambar oleh Thomas G. dari Pixabay



Sistem pendidikan kita pada dasarnya masih dibangun di atas logika abad ke-19 yang diadopsi secara masif di era kolonial dan dipertahankan hingga sekarang dengan sedikit polesan kosmetik. Logika itu sederhana: anak adalah tabula rasa (kertas kosong) yang harus diisi pengetahuan secara sistematis, terukur, dan seragam. Mereka harus duduk diam 6–8 jam sehari, mendengarkan orang dewasa berbicara, mengerjakan lembar kerja yang sama, dan diuji dengan cara yang sama pula—semuanya demi menciptakan output manusia yang “standar” untuk kebutuhan ekonomi masa lalu.

Tapi dunia 2026 sudah sangat berbeda. Anak-anak lahir dan besar bersama algoritma yang tahu lebih cepat apa yang mereka sukai ketimbang guru mereka sendiri. Mereka terbiasa dengan kecepatan, pilihan, personalisasi, dan feedback instan. TikTok memberi mereka video 15 detik yang langsung relevan dengan minatnya. YouTube merekomendasikan konten yang semakin dalam sesuai rasa ingin tahunya. Game memberikan level-up dan reward setiap 5–10 menit. Lalu mereka masuk ke kelas di mana mereka harus menunggu 40 menit sampai guru selesai menjelaskan materi yang sebagian besar sudah bisa mereka cari sendiri dalam 3 menit di ponsel.

Ketidaksesuaian ini menciptakan dissonance kognitif dan emosional yang sangat besar.

Bayangkan kamu dipaksa setiap hari selama 12 tahun mengikuti ritme yang sama, konten yang tidak bisa kamu pilih, kecepatan yang tidak bisa kamu atur, dan tujuan akhir yang terasa abstrak serta jauh (“nanti kalau sudah lulus baru berguna”). Tubuh dan pikiran manusia tidak dirancang untuk menahan dissonance sebesar itu tanpa konsekuensi. Yang muncul bukan kemalasan, melainkan mekanisme pertahanan alami: penolakan, apatis, kecemasan, bahkan depresi ringan.

Data dari berbagai survei informal di grup orang tua dan konseling sekolah sepanjang 2024–2025 menunjukkan pola yang sama: peningkatan drastis anak usia 11–16 tahun yang mengalami school refusal (penolakan sekolah) bukan karena bullying atau masalah keluarga berat, melainkan karena “bosan”, “capek”, “tidak ada gunanya”, atau kalimat paling jujur: “Aku merasa tidak dihargai di sana”.

Jadi kalau anakmu tiba-tiba tidak mau sekolah lagi di tahun 2026 ini, kemungkinan besar bukan karena dia “manja” atau “kurang disiplin”. Lebih mungkin dia sedang berteriak dengan caranya sendiri bahwa sistem ini sudah tidak lagi cocok dengan cara otak manusia belajar di era informasi berlimpah dan dunia yang berubah sangat cepat.

Solusinya tentu tidak sederhana. Tidak cukup dengan tambah ekstrakurikuler, kasih konseling motivasi, atau ganti sekolah swasta yang lebih mahal. Yang dibutuhkan adalah perubahan desain mendasar: kurikulum yang fleksibel, penilaian yang lebih autentik, ruang untuk minat pribadi, ritme belajar yang bisa disesuaikan, dan pengakuan bahwa tidak semua anak harus melewati jalur yang sama untuk menjadi manusia berharga.

Sampai perubahan itu terjadi secara sistemik, mungkin tugas terberat sekarang jatuh ke orang tua dan komunitas: membantu anak bertahan tanpa harus memaksanya mati rasa, sekaligus terus menyuarakan bahwa “anak tidak mau sekolah” sebenarnya adalah sinyal kegagalan sistem—bukan kegagalan anak.

Karena pada akhirnya, anak yang menolak sekolah bukan anak bermasalah.
Mereka adalah cermin paling jujur dari sistem yang sudah lama kehilangan relevansinya.

Posting Komentar

0 Komentar